Ingin yang sederhana sahaja… 18/04/2009
Posted by Yasrid in Inspirasi.Tags: sederhana
7 comments
Saya punya mimpi tentang kesederhanaan… entah apakah bisa diwujudkan semuanya atau tidak. Moga dengan menuliskannya di sini bisa menjadi jalan untuk mengikrarkan dan selalu mengingat keinginan itu hingga bisa tercapai.
- Menjadi pendidik
Saya ingin lama tinggal di negara-negara maju (target: Jepang -> Belanda -> Amerika -> Arab). Cukuplah jadi musafir saja, menumpang bekerja sambil menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Setelah itu kembali ke kampung halaman, berdakwah, mengabdikan diri di daerah pedalaman yang kurang terjamah pendidikan berkualitas. - Tanpa gelar
Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin banyak juga gelar yang disematkan. Kalau saya kelak jadi guru besar (berkhayal), mungkin orang-orang akan menuliskan nama saya seperti ini:Prof. Ahmad Ridwan Tresna Nugraha, Ph.D, M.Sc, S.Si, bla… bla… bla…
Gawat deh :o Sudah lapur nama saya panjang, eh malah diembel-embeli gelar panjang, repot deh… Saya lebih suka jika dipanggil singkat saja dengan nama kecil saya, “Id”, atau “Cep Ridwan”, “Cep Iid”, dan sejenisnya :D
Saya juga lebih senang jika orang-orang tidak tahu atau tidak mengingat-ingat jika saya, misalnya, sudah lulus apa, punya pencapaian apa, dan semacamnya.
Idealisme tentang gelar ini bisa jadi masalah jika dikaitkan dengan kultur orang-orang Indonesia yang sangat senang untuk menuliskan gelar dalam undangan dan semacamnya. Dengan demikian, saran saya untuk orang-orang yang benci dengan gelar tapi juga butuh gelar itu, sebelum gelar kita semakin panjang, maka sebaiknya menikah secepatnya. Apa hubungannya ya? Hehe… sedang berjuang nih :p - Sepeda kendaraanku
Teringat kisah Oemar Bakrie, sang guru yang selalu dengan sepeda tua ke manapun ia pergi, sederhana tapi berjiwa besar. Mungkin banyak yang akan protes, kalau bisa mengusahakan motor atau mobil kenapa tidak? Jawabnya sederhana, karena saya tidak bisa menyetir mobil dan tidak kuat memarkirkan sepeda motor mengingat posisi penyangga/standar-nya itu yang harus diungkit ke depan sambil menarik motor ke belakang :D - Ingin seperti Abu Dzar Al-Ghifary
Beliau adalah sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang jadi favoritku. Terutama ketika akan meninggalnya, beliau sangat terasing, tapi dengan menjadi orang terasing itulah beliau mendapatkan kebahagiaan hakiki kelak di akhirat.
Kontras 18/04/2009
Posted by Yasrid in Pengalaman.Tags: masak, salmon
add a comment
Mencoba lagi variasi dengan ikan salmon, sekarang akhirnya bisa masak dengan bumbu kecap yang sangat kental. Tapi penampilannya gak menarik, huhu T_T
Meski demikian, alhamdulillah rasanya tetap enak di lidah, dipadu dengan sayur tahu toge yang bening (akhirnya dapet juga toge di Jepang).

Salmon kecap (kanan) + Sayur tahu toge
Selamat makan, jangan lupa berdoa. Setiap suap makanan yang masuk ke perut kita harus menjadikan kita selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLAH, juga mengingatkan akan kondisi saudara-saudara kita yang kekurangan dan belum beruntung meski hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Mendidik anak 15/04/2009
Posted by Yasrid in Psikologi.Tags: anak, mendidik, pola asuh
add a comment
Mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Sulit-sulit gampang, banyak sulitnya daripada gampangnya.
Begitulah kira-kira kata orangtua yang sudah berpengalaman mendidik beberapa anaknya.
Ungkapan tersebut memang benar. Anak terlahir dengan dibekali karakter dan sifat masing-masing yang tentunya tidak akan sama antara anak yang satu dengan yang lainnya. Sifat bawaan tersebut akan berkembang dengan dipengaruhi oleh lingkungannya. Pola didik inilah merupakan faktor eksternal yang turut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
Ada berbagai macam cara mendidik anak. Kita biasa menyebutnya dengan pola asuh. Beberapa ahli menggolongkan pola asuh dalam beberapa istilah. Kategorisasi pola asuh yang paling populer antara lain pola asuh permisif, otoriter, dan otoritatif. Masing-masing cara mendidik di atas memiliki konsekuensi tersendiri.
Anak yang dididik secara permisif ‘apa saja boleh’ akan tumbuh menjadi anak pemberani, keras kepala, dan kurang menghargai orang lain. Baginya, apapun yang ia lakukan adalah benar. Beberapa orangtua masa kini memilih pola asuh yang ‘nyaris’ permisif. Memang sangat tipis beda antara permisif dengan mengasuh ‘tanpa memarahi’. Satu sisi, anak berani mencoba hal-hal baru, namun di sisi lain anak akan tumbuh dengan mengembangkan sifat egoisnya. Anak seperti ini sejak kecil selalu dituruti oleh orangtuanya, sehingga ia tidak peduli dengan kepentinngan orang lain. Saya pernah mengamati anak yang diasuh dengan cara seperti ini, pada usia kanak-kanaknya ia telah menampakkan ‘bakat-bakat’ keras kepala dan egoisnya. Ketika ia meminta sesuatu yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri, ia menyuruh orang lain. Jika tidak ditturuti maka akan marah dan berteriak. Akhirnya orangtuanya pun menuruti semua kemauannya. Di sisi lain, ia berani mencoba hal-hal baru dan nampak pandai jika dilihat dari kemampuannya.
Anak yang dididik dengan otoriter, maka cenderung tidak berani mencoba hal-hal baru dan terlihat ‘penurut’ di depan orangtuanya. Kebiasaan mendapat dikte orangtua akan menyulitkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Pola otoritatif nampaknya cukup baik diterapkan, dimana ada komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Anak diajarkan bertanggung jawab, mendapat pujian dan hukuman sesuai dengan perbuatannya. Biasanya, pola otoriter kerap diterapkan oleh para orangtua jaman dulu. Pola ini sangat konvensional, dimana orangtua memegang kendali sepenuhnya. Sedangkan pada masa sekarang, tidak sedikit orangtua yang memakai pola permisif (tanpa hukuman) dalam mendidik anak-anaknya, dimana anak dibebaskan melakukan semua yang ia inginkan tanpa batasan. Sedangkan pola otoritatif nampaknya dapat dicoba dengan menyesuaikan kepribadian anak masing-masing.
Pada dasarnya, setiap cara didik akan menimbulkan efek yang berbeda-beda. Orang tua perlu memahami dan menyesuaikan pola asuh yang paling tepat untuk anak-anaknya. Alangkah baiknya jika kita sebagai orangtua bisa benar-benar memahami anak-anak kita. Hal ini akan sangat membantu kita dalam mendidik mereka. Ketika salah dalam mendidik, maka akan berakibat fatal bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah memilih pola didik yang tepat bagi anak Anda? :)
Perfeksionis, benarkah menyebalkan? :D 12/04/2009
Posted by Yasrid in Pengalaman, Psikologi.Tags: kepribadian
add a comment
Perfeksionisme adalah sebuah sifat yang menginginkan segala sesuatu nyaris sempurna dan merancang tidak ada kekurangan sedikitpun dari hasil pekerjaannya. Orang dengan sifat seperti ini di sisi lain dari sifatnya yang tidak mudah puas juga ‘kadang’ tersiksa. Nampak terlalu ribet dalam mengerjakan sesuatu demi hasil yang diharapkan (pendapat orang lain ketika mengamati). Meskipun hasilnya optimal namun ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan.
Sebagai contoh dalam hal bekerja, seorang perfeksionis tidak akan puas dengan hasil pekerjaan yang menurutnya ‘tidak sempurna’ (padahal di dunia ini mana ada yang sempurna?). Cukup menyiksa memang, karena ia akan mengulang beberapa hal demi mendapatkan hasil yang sesuai harapannya. Nah, bagi yang tingkat perfeksionisnya tinggi (hampir ga ketulungan) akan lebih repot lagi. Misalnya membuat gambar atau desain, bisa-bisa tempat sampah akan dipenuhi dengan kertas berisi pekerjaan yang nyaris jadi namun ‘menurutnya’ tidak terlalu bagus akhirnya pun klik delete dan buang coretannya di tempat sampah. Padahal kalau kata orang lain, sudah lumayan bagus (tetap saja tidak dihiraukan olehnya).
Menjadi perfeksionis memang banyak konsekuensinya. Orang perfeksionis cenderung rentan terhadap stres karena mengusahakan dan mengharapkan segala sesuatu tanpa kekurangan. Wah, kalau toh ada kekurangan haruslah seminimal mungkin. Ada banyak aturan yang diberlakukan untuk dirinya sendiri. Jadi terkadang bisa kelelahan sendiri. Selain itu, ia memiliki pikiran atau ide-ide kreatif sendiri dan mengharapkan orang lain bisa mengikuti alur pikirannya, padahal tidak semua orang bisa bekerja ‘ala dia’. Nampak egoiskah? (Curhatan pribadi!!! Sepertinya saya juga punya sindrom perfeksionis :D)
Selain negatifnya, ada sisi positif dari perfeksionis.
Serahkanlah pekerjaan kepada mereka, niscaya Anda puas dengan hasilnya.
Hehehe… Memang demikian yang terjadi, orang perfeksionis akan melakukan segala hal sebaik mungkin. Tentu juga sangat disiplin terutama mengusahakan disiplin untuk dirinya sendiri. Ada rasa ketidaknyamanan ketika melakukan sesuatu ‘biasa-biasa saja’ padahal menurutnya bisa ia lakukan lebih baik. Dengan demikian, hasil yang ia dapat pun akan lebih optimal. Hmm, nampaknya orang-orang seperti ini kurang menikmati proses yah? karena terlalu dipusingkan dengan hasil yang terbaik :p
Ada slogan yang menarik dari seorang perfeksionis,
Jika tidak melakukan yang terbaik, lebih baik tidak sama sekali.
Dalam hal ini, termasuk lebih baik ketika merencanakan dan melakukan sebaik-baiknya, daripada bekerja ala kadarnya.
Nampak capek yah bila kita melihat mereka di sekitar kita. Padahal tidak selamanya begitu, ada beberapa tipe perfeksionis yang ‘menikmati’ keribetannya kok ;)
Nah, bagaimanakan dengan Anda ketika menghadapi seorang perfeksionis? Benarkah menyebalkan? :D
Salmon Express++ 04/04/2009
Posted by Yasrid in Inspirasi.Tags: masak, salmon
add a comment
Salmon merupakan ikan yang sangat bergizi. Di Jepang sangat mudah ditemukan ikan jenis ini dijual hampir di seluruh supermarket. Asyiknya, para penjual sudah berbaik hati mengemas salmon dalam bentuk filet segar yang siap dimakan mentah-mentah (hii…) atau dimasak dulu. Saya sendiri gak pernah berani kalo harus makan salmon mentah kecuali dari warung sushi. Nah, karena mudah diolah maka salmon ini menjadi ikan favorit saya di sini untuk dimasak.
Ok, cukup basa-basinya, hehe :D sekarang langsung aja pada intinya saya lagi senang eksperimen dengan ikan ini. Setelah sebelumnya memasak “Salmon Express“, sekarang saya mengembangkan varian baru dengan tambahan wortel dan kubis, jadilah masakan improvisasi salmon ini saya beri nama “Salmon Express++” :))
Bahan-bahan:
- 500 gram ikan salmon yang sudah difilet, potong kotak-kotak.
- 1/2 buah bawang bombai, cincang sampai halus.
- 3 buah paprika hijau, potong kecil.
- 1 buah wortel potong sesuai selera (kecil-kecil aja).
- sedikit potongan kubis, kira-kira sebanyak potongan wortel.
Cara membuat:
- Tumis bawang bombai dan paprika sampai harum dengan sedikit minyak.
- Masukkan ikan salmon, taburkan merica hingga bau amis hilang, goreng sekitar 5 menit.
- Taburkan 3 sendok garam dan 1 sendok gula pasir.
- Masukkan sedikit air, tambahkan kira-kira 2 sendok saus tomat dan 4 sendok kecap manis, aduk rata.
- Masukkan wortel dan kubis, tambahkan air lagi hingga setengah terendam.
- Aduk sampai semua bumbu meresap, kira-kira selama 3 menit, lalu angkat.
- Santap selagi hangat, untuk 2 porsi.
Workaholic 03/04/2009
Posted by Yasrid in Renungan.Tags: ibadah, jepang, kerja, korea, waktu
3 comments
(Ini tulisan 3 bulan lalu, tapi saya publikasi ulang untuk kepentingan refleksi diri… :)
Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih diberi kesempatan untuk hidup, mudah-mudahan dijauhkan dari kesia-siaan. Saya ingin membahas fenomena workaholic, berhubung dengan izin ALLAH sekarang saya ada di salah satu negeri yang terkenal edan budaya kerjanya.
Saya tergelitik dengan kemajuan banyak negara Eropa, Amerika, dan Asia Timur. Rupanya (mungkin) kemajuan/perkembangan pesat suatu negara bisa sangat terkait dengan jumlah jam kerja dari penduduknya. Mari kita lihat beberapa angka… (trims buat K’Izul yang dah ngasih petunjuk rujukan di wiki)
| Nama Negara | Rata-Rata Jam Kerja* |
|---|---|
| Korea Selatan | 2390 |
| Polandia | 1984 |
| Meksiko | 1980 |
| Rep. Ceko | 1882 |
| Jepang | 1828 |
| Yunani | 1811 |
| Amerika Serikat | 1777 |
| *per orang per tahun | |
Tabel tersebut menunjukkan tujuh negara paling workaholic di antara negara-negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi (high-income countries). Yang menarik adalah kemunculan Korea Selatan di urutan teratas. Selisihnya dengan negara-negara di bawahnya, termasuk Jepang, ternyata lebih dari 400 jam, yang berarti orang-orang Korea bekerja 1 sd 1.5 jam lebih lama per harinya.
Kita coba hitung jam kerja orang Indonesia. Untuk ukuran kebanyakan PNS (tapi yang rajin-rajin) biasanya masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, itu artinya 8 jam per hari. Ambil 5 hari kerja per pekan dan 52 pekan per tahun, berarti jumlah jam kerja kita adalah 8×5x52 = 2080 jam per orang per tahun. Wow! Ternyata kita gak kalah sama negara-negara maju itu. Lalu kenapa Indonesia gak maju-maju?
Kalau dipikir-pikir lagi, di Jepang ini saya masuk lab sekitar jam 8.30 pagi dan pulang jam 6.30 malam, alias 10 jam per hari. Coba cocokkan dengan tabel sebelumnya yang diambil dari Wikipedia itu, hitung 10×5x52 jadinya 2600 jam. Busyet, berlebih hampir 800 jam dibanding data di tabel untuk jam kerja Jepang. Hmm, rupanya perhitungan di tabel itu juga mengikutsertakan orang-orang usia non-produktif seperti anak-anak dan lansia.
Korea Selatan dan Jepang sekarang punya piramida penduduk terbalik, usia lansia (katanya) cenderung dominan daripada usia kerja, tapi jumlah jam kerjanya masih dahsyat. Secara khusus, Korea Selatan baru “resmi” merdeka pada 1953 setelah perang Korea, sedangkan Indonesia sudah dari 1945 (atau 1949 setelah agresi berikutnya). Saya masih tergelitik, kenapa mereka bisa maju, Indonesia gak maju-maju…
Ah, pusing, ngapain juga mikirin itu…
Sedikit berbagi perasaan aja, saya heran orang-orang di sini (terutama lingkungan lab) bisa tahan kerja lama, seolah-olah tidak ada pekerjaan lain (lho? kerja itu kan pekerjaannya). Saya sering ingin pulang cepat, tapi malu karena teman-teman dan khususnya profesor saya masih “melamun” di lab. Apa sih yang mereka cari?
Saya meniatkan kerja/sekolah ini mudah-mudahan dapat Ridho ALLAH. Jerih payahnya moga ada manfaatnya untuk umat manusia, sedangkan pendapatannya moga barokah untuk menghidupi diri sendiri dan (kelak) keluarga saya. Tapi coba kita berhitung lagi…
1 hari itu = 24 jam
10 jam sudah terpakai kerja
1.5 jam untuk perjalanan rumah-lab
1 jam untuk masak memasak
3 jam untuk belajar kerjaan lab di rumah
5.5 jam untuk tidur
total 21 jam
tersisa 3 jam lagi
Ya ALLAH, cukupkah 3 jam yang tersisa? Rupanya selama ini saya hanya menyisakan 3 jam untuk ibadah dan belajar Islam, sedangkan 21 jam lagi sudah habis untuk kegiatan lain… Padahal, kegiatan 21 jam per hari itu nanti di akhirat hanya sedikit peranannya untuk menyelamatkan saya dari api neraka :((
Terkait hal ini, saya lebih memilih tinggal di Indonesia karena santai dan banyak waktu yang bisa dialokasikan untuk belajar Islam.
Ampunilah aku ya ALLAH…
hanya sedikit waktu yang kusediakan ‘tuk mengingatMu…
Tapi diri ini selalu berharap mendapatkan surgaMu…
meski tak ada amal yang pantas kubanggakan kelak…
Sindrom anak sulung 01/04/2009
Posted by Yasrid in Psikologi.Tags: anak, kepribadian, sulung
7 comments
Sempat bingung juga mencari judul yang tepat untuk tulisan ini. Nampak aneh dengan penggunaan kata ’sindrom’, mungkin lebih tepatnya (yang saya maksudkan di sini) adalah kecenderungan kepribadian anak sulung :)
Saya sempat berinteraksi cukup lama dengan anak-anak yang menjadi anak sulung. Ada beberapa hal menarik dari pengalaman tersebut dan saya akan membaginya pada tulisan ini.
Setelah cukup lama melakukan pengamatan, ternyata ada corak khas dari anak-anak sulung. Secara psikologis, memang urutan kelahiran cukup mempengaruhi kepribadian anak. Secara garis besarnya adalah sebagai berikut.
Pertama, anak sulung cenderung ambisius dan bertanggung jawab. Anak yang dilahirkan sebagai anak sulung cenderung mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, apalagi bila jarak kelahiran dengan adiknya relatif cukup lama (lebih dari 2 tahunan). Anak sulung mendapatkan prioritas lebih dalam banyak hal, karena hal inilah ia akan cenderung lebih ambisius untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain itu, ia juga cenderung bertanggung jawab untuk menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan kepadanya namun di sisi lain ia sangat keras kepala. Anak sulung terbiasa dijadikan patokan standar ‘model’ yang penting bagi adik-adiknya, hal inilah yang mendorong mereka untuk selalu berprestasi (*nampak sangat ambisius).
Kedua, cenderung bersikap ‘boss’ banyak mengatur. Pola perilaku seperti ini merupakan hasil pembelajaran sejak mereka kecil. Anak sulung diharuskan mampu menjadi teladan bagi adiknya, sehingga kerap banyak mengatur orang lain (namun kadang dirinya susah diatur :D).
Ketiga, cenderung pekerja keras dan tidak mudah putus asa. Pembiasaan untuk menjadi model yang baik sejak kecil dapat membentuk kepribadian anak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak mudah putus asa untuk meraih mimpinya.
Keempat, cenderung kritis dan analitis. Banyak penelitian yang megungkapkan bahwa skor kecerdasan anak sulung cenderung lebih tinggi daripada saudara-saudaranya (*bagaimana dengan Anda?).
Kelima, cenderung mampu berpikir dewasa. Menjadi yang pertama diharapkan mampu memberi yang lebih baik akan menjadikan anak sulung lebih mampu untuk bersikap dan berpikir dewasa dalam menyelesaikan masalah. Jadi biasanya nyaman untuk dijadikan sebagai tempat curhat :).
Berdasarkan hasil pengamatan saya, hal menonjol yang paling nampak dari anak-anak sulung adalah cerdas, sangat keras kepala, disiplin, serius, ambisius, terlalu pilih-pilih, bertanggung jawab, tidak mudah putus asa, dewasa, suka memerintah, dan susah diatur.
Bagi yang merasa anak sulung, benarkah hal di atas ada dalam diri Anda?
Rumahku, surgaku 31/03/2009
Posted by Yasrid in Pengalaman.Tags: cinta, rumah, surga
4 comments
Rumahku, surgaku…
Itulah bunyi sebuah pepatah yang kerap kita dengar untuk mendeskripsikan sebuah rumah idaman. Akhir-akhir ini barulah saya menyadari bahwa pepatah itu memang benar adanya. Padahal, biasanya saya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti pepatah itu. Setelah dirasakan dan direnungi, ternyata memang benar…
No Place Like Home
Di manapun kita berada, rasanya tetap nyaman di rumah sendiri (bagaimanapun keadaannya). Bagi yang masih jadi anak, tempat ternyaman adalah rumah orangtua. Bagi yang sudah menikah, tempat terindah adalah rumah suami. Bagi yang nge kos??? jawab sendiri ya ;)
Jika kita pernah ‘uji coba’ tinggal di rumah orang lain untuk beberapa waktu yang lama, coba kita rasakan, kemudian bandingkan dengan perasaan saat kita berada di kamar sendiri. Saat tinggal di rumah orang lain, dipungkiri ataupun tidak -semewah apapun rumah itu- secara psikis tetaplah tidak senyaman rumah sendiri. Perasaan sungkan, kikuk, canggung, dan sebagainya mungkin kerap datang di hati kita, namun kebanyakan orang tak mempedulikannya. Jika kita mau merasakan, mungkin saat-saat itulah baru kita rasakan bagaimana nyamannya kamar di rumah kita :)
Berkumpul dengan keluarga, bercanda, ribut bersama, dan kehebohan lainnya di rumah kerap kali menjadi sebuah kenikmatan yang sering kita lupakan. Ketika saat-saat itu tak terulang lagi, barulah kita mengerti ‘betapa berharganya’ sebuah istana keluarga. Ada banyak warna-warni di istana kita.
Kembali di tengah keluarga, berdiam diri di kamar untuk mencari inspirasi dan berkarya, berkumpul, bercanda rame-rame adalah saat-saat indah dalam hidup.
Jadi, jangan pernah lupakan keindahan istana kita :)
Menghitung hari… 30/03/2009
Posted by Yasrid in Renungan.Tags: hari, hitung, waktu
4 comments
Setelah menghitung hari, ternyata cukup lama saya jauh dari keluarga. Tiap hari rasanya ingin pulang, huhu…
Menghitung hari lagi,
kapan ya saya bertemu kembali dengan mereka ‘orang-orang yang saya cintai?’
Waktu terasa berjalan sangat lambat, padahal sebenarnya NYARIS setiap hari kekurangan waktu. Lagi-lagi menghitung hari…
Kalau mengingat Surah Al-Ashr, jika dihitung maka hari sangatlah singkat dan memang itu benar adanya. Banyak hal yang kita lewatkan, telah berlalu dalam hidup kita. Waktu terlalu cepat bergulir, namun banyak hal yang tidak kita sadari. Kadang kita sering mendengar,
Dulu kayaknya masih TK kok sekarang sudah sarjana ya?
Dulu masih ke mana-mana ditemani ibu kok sekarang mau jadi ibu ya?
Begitulah kira-kira pertanyaan ‘keheranan’ karena hari berlalu demikian cepat. Lantas, saya kembali merenung… berapa hari lagi saya ada di sini? Berapa hari lagi saya dapat beramal? Berapa hari lagi jatah umur saya?
Tiba-tiba badan ini terasa merinding. Ahh, ternyata menghitung hari menuju akhirat jauh lebih utama dari semua menghitung hari menuju hal lainnya.
Sekedar renungan untuk diri sendiri tentang menghitung hari.
Semoga kita mampu memanfaatkan sisa waktu dalam hitungan hari tersebut. :)

Blog ini merupakan kolaborasi tulisan dua orang dengan latar belakang pendidikan berbeda tapi memiliki cara pandang yang sama tentang hidup :)
Jika tertulis kata "saya" dalam setiap tulisan, silakan tebak sendiri siapa yang menulis.
