jump to navigation

Mengisi waktu setelah lulus, bersabarlah… 30/03/2009

Posted by Yasrid in Manajemen.
Tags: , ,
add a comment

Sore kemarin saya mendapat email curhatan dari seorang teman, namun sampai pagi ini saya belum membalas email tersebut. Bukan karena tidak sempat tapi karena belum menemukan rangkaian kata yang paling tepat untuknya. Inilah kutipan isi email tersebut (dengan beberapa penyesuaian):

Assalamu’alaikum …
Aku sekarang lagi bingung, blank, apa yang harus dilakukan setelah lulus, sambil nunggu wisuda. Aku rada stress nggak ada yang dikerjain. Ortuku pengen aku lanjut S2 dulu sebelum kerja, tapi koq aku males mikir ya, aku ingin cari pengalaman di luar dunia perkuliahan.

Alhamdulillah akhirnya aku lulus Januari kemarin, tapi wisuda April. Aku ingin mondok, belajar agama selama menunggu wisuda, tapi aku gak nemu2 tempat mondok. Alhasil aku malah travelling ke Ngawi beberapa hari di tempat temanku, di cilacap, terakhir di Bandung kemarin…

Kayak kehilangan jati diri, sebenarnya aku tu maunya apa, nggak tahu… Diam di rumah bikin stress, tdk produktif sama sekali. Sekarang aku lagi bingung, harus kemana aku pergi dan mau ngapain di tempat tujuanku nantinya. Sekarang aku harus kemana lagi, i need ur advice, what should i do?

Kurang lebih begitulah curhatan dari teman saya. Lantas saya berpikir, sebenarnya sangat banyak orang (tepatnya mahasiswa) yang mengalami hal serupa. Bahkan ada yang satu, dua, tiga tahun atau lebih yang mengalami kebingungan dan kehilangan -identitas- selepas lulus dari bangku kuliah. Cukup lumrah, seperti mengalami post power sindrom (PPS). Dulunya sangat aktif dalam banyak kegiatan kampus, begadang mengejar deadline tugas, menyiapkan ujian, dan banyak hal yang seru lainnya, kini hari-hari terasa monoton seolah sia-sia karena tidak ada tugas yang lebih menantang untuk dikerjakan.

Kebingungan harus melakukan apa adalah hal yang sangat wajar dialami pada masa transisi ini. Jika ada yang mengalaminya, jangan khawatir… tidak sendirian kok ;) Saya juga sempat mengalaminya (blank, jenuh, bingung, sejuta rasa deh pasca lulus S1).

Sekarang yang kita pikirkan, bagaimana menikmati hari-hari ini. Sebenarnya jika kita kembalikan lagi ke rumus kewajiban manusia, insyaALLAH akan lebih ringan menjalaninya. Rumusnya adalah ikhtiar/berusaha untuk tetap berkarya -freelancer- (meski belum punya status baru sebagai pengganti identitas mahasiswa) dan jangan lupa terus berdoa, tepatnya mungkin identitas sebagai -pengangguran yang produktif- hehe…
Gimana tuh?

Jadi gini, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita lakukan setelah lulus. Sembari mencari pekerjaan, mencari sekolah, atau mungkin mencari jodoh :p, kita bisa tetap punya identitas dan berkarya, baik yang sesuai dengan bidang ilmu maupun tidak. Beberapa alternatif:

  1. Yang paling sederhana adalah menjalani hobi, misalnya menulis. Kita sibukkan hari-hari kita dengan lebih rajin posting blog (hehe..), syukur-syukur bisa menelurkan sebuah buku :D.
  2. Jika hobi jalan-jalan, tak ada salahnya melakukan perjalanan ke banyak tempat yang semula tidak sempat dilakukan karena kesibukan di kampus. Kita bisa mengenal banyak orang dan bertemu banyak hal, tentunya mendapat pengalaman baru :). Misalnya: bolak-balik Semarang-Bandung-Depok, hehe… Lumayan lah, menyegarkan pikiran.
  3. Bisa juga bergabung dengan LSM (ini mah belum ada pengalaman :p), membantu kegiatan sosial di lingkungan kita, kalau ikhlas tunggulah tabungan akhiratnya :)
  4. Mengikuti les: ada banyak tawaran les yang bisa kita ikuti, misalnya: les masak (penting banget buat yang ga bisa masak :D, les bahasa -mungkin aja ntar terdampar di negeri asing ;) hehe-, les macem-macem deh.
  5. Rajin buka koran dan internet, maklum job seeker :p jangan lupa pula kunjungi JOB FAIR.
  6. Melahap banyak buku: selain ilmu pengetahuan jadi nambah, kita bisa mengenal bacaan lebih banyak. Dari yang sangat bermanfaat sampai yang ga terlalu penting. Dari komik doraemon sampai handbook of something yang bikin kepala muter-muter.

Pokoknya lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan diri sendiri. Kalau masih bertemu dengan kejenuhan juga, lakukan hal yang lebih variatif dan tidak monoton. Meskipun identitas sebagai mahasiswa -berasa penting- dan kita telah kehilangannya, namun kita punya identitas baru yaitu identitas sebagai bagian dari masyarakat yang kini saatnya bermanfaat dengan mengaplikasikan ilmu yang didapat selama menjadi mahasiswa :)

Bisa jadi nanti kita akan berada di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya, mungkin di luar negeri, mungkin membangun kota sendiri, mungkin membuat peradaban baru (ceilee). Singkatnya mah tetap berSABAR dan terus ikhtiar sampai pada Allah menentukan rejeki kita selanjutnya. Semua takdir adalah terbaik bagi kita, jadi syukuri yang ada dan lakukan yang terbaik. :)

Konsentrasi lagi… 29/03/2009

Posted by Yasrid in Inspirasi, Manajemen.
Tags: , ,
add a comment

Belajar untuk mampu lama dalam berkonsentrasi bukanlah hal yang mudah bagi kita. Seingat saya, maksimal bisa konsentrasi penuh dalam sekali buka buku biasanya sekitar 1 jam (tidak beralih ke hal apapun), syukur-syukur nyampe 1., jam. Hmm, bukanlah hal mudah namun bisa diusahakan. Kalo menuruti keinginan diri, bakal susah buat bertahan di depan buku “ON” 1,5 jam. Tapi, akhirnya bisa juga! Horee! Hehe… emang semua hal harus diusahakan (tepatnya diniatkan dan dilakukan).

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk melatih konsentrasi (ala saya tentunya :D ):

  1. Carilah tempat yang nyaman dan kondusif untuk membaca: cukup penerangan, nyaman untuk duduk atau bersandar, dan cukup udara segar.
  2. Siapkan segelas air putih (tanpa snack atau minuman manis lainnya). Kenapa memilih tanpa snack? Karena kalau ada snacknya, bakalan itu doank yang masuk :D
  3. Mulai buka buku dan membaca secara efektif. Tidak perlu baca semua kalimat tapi ambil pikiran utamanya, kemudian diingat poin-poin itu.
  4. Fokus pada apa yang ada di depan mata, jangan hiraukan lintasan pikiran yang lain, kecuali ibu memanggil (hehe, segera jawab!)
  5. Buat resume materi di kepala atau coretan tertulis tentang apa yang dibaca.
  6. Jika ada yang belum dimengerti, coba diulang kembali membacanya atau catat dan tanyakan (pada siapa? hehe)
  7. Buang jauh-jauh keinginan untuk beranjak dan menutup buku.
  8. Bersabarlah, hehe, 1 jam, 2 jam, … waktu akan segera berlalu :D

Selamat mencoba!!!
(sudah ada hasilnya kok -lumayan efektif- untuk memahami isi sebuah buku :)

Berikanlah pekerjaan pada orang sibuk 01/03/2009

Posted by Yasrid in Manajemen.
Tags: ,
add a comment

Sepanjang pekan ini otak saya seperti mau meledak. Meskipun kuliah sudah beres semuanya dan fokus utama hanya pada riset, tetapi yang terhormat profesorku tidak henti-hentinya memberi tugas. Mulai dari meminta bolak-balik ke ruangannya untuk menunjukkan hasil perhitungan, hingga server maintenance untuk menjamin keselamatan situs lab. Dua hari yang lalu beliau pun menambah kerjaan lagi, padahal kerjaan saya yang lama juga belum beres :((. Sekarang kerjaannya adalah belajar program perhitungan energi eksiton pada carbon nanotube. Yang menyebalkan, perhitungan ini satu kali kompilasi saja memakan waktu minimal 4 jam (!) dan total kompilasi yang harus dilakukan adalah 12 kali untuk berbagai parameter yang berbeda. Yah tapi bisa juga sih mengerjakan hal lain di selang waktu komputer itu bekerja.

Mengeluh? Wajar jika kita mengeluh, asalkan tidak berlebihan. Menariknya, profesor saya punya prinsip yang sebetulnya dari dulu sudah saya ketahui kebaikan prinsip tersebut. Seseorang akan keluar semua potensinya ketika dia berada dalam keadaan tertekan, misalnya karena sibuk mengerjakan banyak tugas dalam waktu bersamaan (multitasking). Makanya beliau menyuruh-nyuruh saya mengerjakan banyak hal sekaligus. Beliau mengambil analogi komputer, katanya komputer itu kalau dipaksa mengerjakan banyak program dalam satu waktu maka si komputer itu bakal memberikan semua sumber dayanya untuk berhitung. Sama juga seperti manusia, semakin sibuk maka semakin dahsyat kemampuan kerjanya. Dalam hati sih saya sempat bergumam juga,

Sialan emangnya gw sama dengan komputer!

Tapi saya memakan lagi ucapan tersebut supaya dilumat oleh asam lambung karena saya setuju dengan prinsip beliau bahwa kita harus berusaha menyibukkan diri untuk memberikan yang terbaik. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kita pun harus hidup seimbang dengan cukup istirahat dan kegiatan lain untuk menyegarkan pikiran.

Model orang sibuk terbaik yang perlu kita tiru adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Jika kita merasa sibuk dengan urusan kita sendiri, maka beliau adalah orang supersibuk: pemimpin agama, sekaligus kepala negara, sekaligus kepala keluarga terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah umat manusia. Dalam 24 jam setiap harinya, semua urusan bisa ditangani dengan sempurna; tidak ada orang yang protes terhadap beliau karena semua masalah selalu terselesaikan, malah yang ada tuh orang-orang bahagia bersama beliau dan sedih ketika ditinggalkan…

Yuk kita coba jadi orang sibuk, tapi jangan sibuk ama urusan sendiri aja, perlu juga sibuk membantu orang lain (asalkan urusan kita juga sudah beres terpecahkan ;).

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain…
[Terjemah Al-Insyiroh: 7]

Konflik tidak perlu ditakuti 08/02/2009

Posted by Yasrid in Manajemen.
Tags: ,
2 comments

Dalam sebuah hubungan interpersonal, melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih, adanya selisih paham, perbedaan pendapat yang biasa disebut dengan konflik merupakan hal yang biasa terjadi. Beberapa contoh hubungan itu antara lain persahabatan, pertemanan, persaudaraan, hubungan keluarga, hubungan dalam organisasi, kapanpun dan dimanapun yang di dalamnya melibatkan dua orang atau lebih.

Orangtua yang berselisih paham dengan anaknya, teman kampus yang berbeda pendapat dengan kita, rapat organisasi yang menjadi ramai karena perbedaan argumentasi antara ketua dengan anggotanya, sahabat yang tiba-tiba ngambek gara-gara beda pemikiran dengan sahabatnya, hal-hal semacam itulah ada di sekitar kita. Beda ini dan itu, selisih pemikiran, salah persepsi, beda argumentasi, dapat dikatakan sebagai bumbu penyedap dalam hubungan interpersonal.

Dalam hubungan interpersonal, konflik yang muncul akan menjadi hal yang konstruktif sekaligus destruktif. Sebenarnya, konflik yang ada dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengeluarkan racun dalam sebuah hubungan. Dengan berkonflik, kita akan lebih memahami siapa teman kita, bagaimana orangtua kita, apa mau sahabat kita, seperti apa pemikiran rekan kita, istilah Jawa-nya nyrateni (memahami dan mengerti sehingga tepat dalam bersikap) orang-orang di sekitar kita. Jika saling nyrateni tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak yang berkonflik, maka akan tercipta hubungan yang lebih harmonis daripada sebelumnya. Kita akan menjadi semakin kompak, solid, dan percaya dengan rekan kita. Namun ketika konflik tidak disikapi dengan bijak, kehancuran atau putus hubungan pun dapat menimpa kita.

Konflik yang muncul dapat disebabkan oleh banyak hal. Perbedaan latar belakang, budaya, pola asuh, pendidikan, akan mempengaruhi cara berpikir seseorang. Jangankan perbedaan yang lebih kompleks, sama-sama lahir dan dibesarkan di tengah suatu keluarga (tentu saja sama budaya dan pola asuhnya), berkonflik dengan kakak atau adik merupakan hal yang lumrah terjadi. Meski kita, adik, ataupun kakak lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang sama, tapi karakter dan watak kita berbeda. Ya… setiap individu memang unik, tidak ada yang sama. Apalagi kita berada di lingkungan sosial yang lebih luas, bertemu dengan banyak orang, bermacam-macam karakter, dari latar belakang yang berbeda, di dukung dengan pendidikan yang berbeda pula, dapat dimaklumi sekali ketika muncul bermacam-macam konflik dan silang pendapat karena perbedaan paradigma dalam berpikir.

Sebagai contoh: ketika kita diminta untuk mendefinisikan “manusia”. Kata mahasiswa kedokteran “manusia terdiri atas jantung, paru-paru, hati, alat indera, tulang, dan beberapa komponen organ fisik yang menyusunnya”. Mahasiswa fisika menjelaskan “manusia itu dipengaruhi oleh berbagai macam gaya, memiliki massa, kemudian terkena gaya gravitasi bumi sehingga dapat berdiri tegak di bumi”. Lain lagi menurut mahasiswa psikologi “manusia itu merupakan individu yang unik, memiliki karakteristik yang khas, dan termanifestasi dalam perilakunya masing-masing”. Mahasiswa teknik pun tak kalah hebat dalam mendefinisikan, “manusia itu merupakan sebuah konstruksi ibarat bangunan yang disusun oleh elemen-elemen yang berbeda-beda, seperti pasir, beton, semen, dan sebagainya”.

Itu baru beberapa penjelasan singkat tentang manusia menurut disiplin ilmu yang berbeda-beda, belum lagi jika semua mahasiswa dari semua fakultas di suatu universitas mengeluarkan definisinya tentang manusia, pastinya akan berbeda-beda dan semakin kompleks pula perbedaannya. Seperti pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, latar belakang yang berbeda akan membedakan paradigma dan persepsi masing-masing pribadi. Ditambah lagi, setiap orang memiliki karakter sendiri-sendiri yang akan mempengaruhi cara berpikirnya terhadap suatu hal. Perbedaan-perbedaan inilah yang sangat rawan menyebabkan munculnya sebuah konflik.

Ketika kita berusaha memahami latar belakang orang lain, mau mengerti pola pikirnya, memahami keinginannya, maka berbagai perbedaan antara kita dengan orang tersebut pun dapat dijadikan sebagai modal kita untuk lebih nyrateni orang lain. Kita dapat memperlakukannya dengan lebih baik, menyenangkan hatinya, dan menjalin hubungan yang lebih sinergis dengan orang tersebut. Merupakan keinginan setiap orang untuk dimengerti dan dipahami oleh orang lain. Jika kita tidak berusaha memberikan apa yang diinginkan oleh orang lain, dapat dipastikan kita tidak akan sukses ketika menjalin hubungan interpersonal dengan siapapun.

Namun, ada hal yang perlu kita cermati lebih lanjut. Ada beberapa karakteristik individu yang maunya dipahami dan dimengerti tetapi ia tidak ingin mengerti dan memahami orang lain. Lantas, apa yang harus kita lakukan jika bertemu dengan orang model ini? Pertama, awali dari kita untuk mau mengerti dan memahaminya terlebih dahulu. Kedua, beri pengertian kepada orang tersebut dengan bahasa asertif bahwa kita juga punya keinginan sama sepertinya. Ketiga, berdoalah semoga kita bisa saling mengerti.

Kembali lagi, konflik merupakan sarana untuk mengeluarkan racun pada semua hubungan interpersonal yang kita jalin. Jika dalam sebuah hubungan (apapun itu) selalu adem-ayem, damai sejahtera, tidak pernah ada perselisihan, maka hubungan itu pun dapat diragukan ketulusannya. Kita dapat melakukan manipulasi (berpura-pura tidak bermasalah), seolah selalu “seiya-sekata”, tidak pernah berselisih paham, padahal sebenarnya tersimpan banyak perasaan tidak nyaman dengan teman kita, namun selama ini selalu dipendam, tidak pernah terucap, dan tidak mau diungkapkan. Ada kemungkinan besar, konflik yang tidak pernah nampak ke permukaan akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja jika telah mencapai titik kulminasi overload menampung “toleransi” yang dipaksakan. Akhirnya, hubungan yang kita jalin dengan baik menjadi putus di tengah jalan karena hal tersebut.

Komunikasi dua arah, sikap asertif, dan kejujuran sangat dibutuhkan ketika kita ingin menjalin suatu hubungan interpersonal yang harmonis dan menyenangkan. Tiga hal ini akan menjembatani berbagai perbedaan yang ada dan akan menyampaikan kita pada arah tujuan yang kita harapkan dalam hubungan tersebut. Jadi, jadikan konflik sebagai sarana untuk saling mengerti dan memahami antara masing-masing pribadi, untuk mengeluarkan racun dalam suatu hubungan, untuk saling memperbaiki diri, dan untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis selanjutnya.

Mencatat dan Kerja Keras 01/02/2009

Posted by Yasrid in Manajemen.
Tags: , ,
6 comments

Dulu saya pernah berpikir para fisikawan hebat hanyalah orang-orang jenius dengan jidat lebar dan berkilat. Setelah berbaur dengan para profesor dan teman-teman di sini, saya yakin pandangan itu salah besar, apalagi setelah kamis-jumat kemarin saya melihat sidang terbuka untuk mahasiswa doktor dan latihan sidang teman-teman saya (master). Jujur saja tidak ada satupun persamaan fisika yang benar-benar saya mengerti dari apa yang mereka sampaikan. Semuanya tampak aneh dan baru buat saya: DFT untuk sistem polimer; manipulasi sudut Brewster dengan metamaterial; analisis fraktal pada retakan material; efek Kondo dijelaskan dari sistem elektron terkorelasi kuat; dan sebagainya, tidak bisa saya tangkap sedikitpun maksudnya apa :D

Yang menarik, semua pembicara pada sidang (dan latihan sidang) itu adalah anak-anak muda usia 24-28an. Semuanya penuh percaya diri menyampaikan riset fisika yang mereka geluti selama 2 tahun (untuk master) dan 3 tahun (untuk doktor), dan semuanya tidak ada yang berjidat lebar atau berkilat seperti bayangan saya tentang fisikawan ketika kecil dulu. Beberapa di antara teman-teman ini bahkan melakukan presentasi dengan penampilan preman: kaos oblong dibalut jaket, celana jeans, dan rambut gondrong. Benar-benar gak ada yang mirip Einstein, Planck, Pauli, Dirac, Heisenberg, Schrödinger, atau Hawking! (Haha, Hawking sih emang tampangnya rada-rada gimana ya, dan belakangan makin ngelantur gak jelas soal Tuhan…)

Hmm… kok mereka (anak-anak muda itu) pada pinter sih? Publikasi mereka di jurnal internasional rata-rata antara 2 s.d. 10 makalah. Saya jadi iri sekaligus malu juga kalo mengingat pada diri sendiri yang dulu suka sok jago (sok jenius) soal matematika dan fisika (astaghfirullah); saya gak ada apa-apanya dibanding mereka, sudah empat bulan tinggal di sini masih belum beres utak-atik riset sendiri…

Ternyata kunci kesuksesan mereka itu sederhana saja. Buat orang-orang Jepang di sini sebetulnya tidak ada bedanya apakah mereka menekuni seni, sains, atau bidang teknik. Tingkat kesulitan antara belajar mengingat kanji ketika dulu mereka masih kecil atau belajar berhitung matematika dan logika pada fisika dianggap sama saja. Kuncinya ada pada semangat kerja keras yang sudah ditanamkan sejak kecil dan ketekunan untuk selalu mengarsipkan apa yang mereka pelajari, yaitu dengan mencatat.

Ini sebenarnya sangat sesuai dengan pepatah yang populer dalam Islam:

Ikatlah keledai dengan tali agar tidak kabur, dan ikatlah ilmu dengan menuliskannya…

Yup, ketekunan, kerja keras, pencatatan yang baik merupakan kunci penguasaan ilmu. Dan tentunya, alangkah baik bila bisa diamalkan pula…

Konsekuensi Cita-Cita 04/01/2009

Posted by Yasrid in Manajemen.
Tags: , , ,
add a comment

Setiap detik dalam hidup kita adalah masa yang bersegera meninggalkan kita. Banyak cita dan angan yang terbersit di benak kita, namun cita-cita tinggal-lah cita dan angan hanyalah angan jika tidak dibarengi dengan azzam, ikhtiar, dan doa untuk menggapai angan itu. Setiap angan yang kita cita-citakan tidak cukup hanya dibayangkan, ibarat pungguk merindukan bulan, mustahil ia menggapai bulan itu. Begitu pun dengan kita, jika hanya berangan-angan kosong tanpa ikhtiar untuk meraihnya. Namun jika kita telah menetapkan azzam kokoh untuk menggapai apa yang kita cita-citakan, ikhtiar semaksimal mungkin, dibarengi dengan doa, dan untuk hasil… tawakkal sepenuhnya kepada Allah, adalah sebuah keniscayaan untuk suatu keberhasilan menggapai cita-cita kita. Jadi, tidak mustahil kita sukses menggapai cita-cita setinggi langit, dengan catatan memenuhi semua persyaratan di atas.

Cita-cita akan memberi kita semangat untuk tetap hidup dan memperjuangkan apa yang kita cita-citakan. Dan setiap cita-cita membutuhkan pengorbanan yang tidak murah, bahkan harus menggadaikan diri kita untuk menebus sebuah cita-cita. Adalah suatu keniscayaan jika kita harus menerima tantangan berat sebagai wujud konsekuensi atas apa yang kita cita-citakan. Konsekuensi itu pun bukanlah hal yang mudah dan nyaman untuk dijalani, bahkan ia mampu mempertaruhkan tidak hanya dunia kita. Sanggupkah kita menerima segala konsekwensi atas apa yang kita cita-citakan? Jika tidak, cita-cita itu tinggalah angan kosong yang sempat numpang lewat di benak kita.

Namun, jika kita sanggup menerima segala konsekuensi atas sebuah cita dengan ikhlas, insyaALLAH… cita-cita itu pun akan menjadi genggaman tangan kita (bukan sekedar angan kosong yang sama sekali tak berarti). Segalanya kembali ke diri kita masing-masing.

Kalau toh, kita sudah melengkapi semua persyaratan menggapai cita-cita dan akhirnya tidak kesampaian, sesungguhnya itu bukanlah sesuatu yang patut disesali, karena kembali lagi semuanya tidak lepas dari yang namanya qodarullah. Mungkin, kesempatan itu belum saatnya kita miliki. Tapi paling tidak, kita sudah berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik. Dan ALLAH Maha Melihat apa-apa yang kita usahakan. Jadi, tidak ada yang namanya “ikhtiar sia-sia, dan percuma”. Ingatlah, ALLAH-lah sebagai SAKSI apa-apa yang kita usahakan.

Cita-cita dan konsekuensinya, bila digambarkan dengan grafik adalah berbanding lurus. Semakin tinggi cita-cita seseorang, semakin besar pula konsekuensi yang harus ia pertaruhkan. Begitupun sebaliknya. Lantas bagaimanakah cita-cita kita?

Jika kita bertekad untuk meraih sesuatu yang tinggi lagi mulia, maka tidak akan mungkin kita akan menghadapi konsekuensi yang “biasa-biasa” saja. Konsekuensi itupun berupa sebuah tantangan besar di depan kita. Akankah kita menghadapinya dengan gagah ataukah kembali berbalik ke belakang… lagi-lagi, itu adalah pilihan kita. Jika kita memilih untuk mundur, kapan lagi kita akan diberi kesempatan untuk menghadapinya? Kapan lagi kita akan berkesempatan untuk melakukan berbagai perubahan banyak hal, dalam diri kita, hidup kita, dan perubahan untuk lingkungan di sekitar kita?

Nyali besar untuk sebuah perubahan besar sebagai konsekuensi cita-cita yang besar pula.

Bila kita tidak bernyali besar, tidak ada artinya sebuah cita-cita besar. Karena untuk suatu perubahan membutuhkan keberanian menghadapi segala tantangan yang menyertainya. Jika kita memilih untuk menjadi orang kerdil dalam bercita-cita, bagaimana kita bisa memperbaiki diri, sedangkan umur semakin berkurang, dan waktu penutupan buku amal semakin dekat? Perjalanan panjang adalah kepastian, namun kita dapati diri kita selalu saja bersantai tanpa menyiapkan bekal sebaik-baiknya untuk perjalanan itu. Dan tidak mungkin kita dikembalikan lagi ke dunia untuk menyiapkan bekal dengan sebaik-baik perbekalan. Yang ada tinggal-lah penyesalan tak berujung.

Akankah kita membiarkan diri kita menangis selamanya lantaran menyia-nyiakan arti sebuah masa, ia terus berlalu sedang kita tak pernah mempedulikannya? Ketika masih ada kesempatan, kita pun tak bersegera mengambil kesempatan itu. Kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri dan memperbanyak amal. Dalam perjalanan perbaikan diri pun, tak semulus yang kita bayangkan. Jika kita ingin mencapai anak tangga ke seribu, maka keletihan kita pun tidak sama dengan orang yang memilih berhenti di anak tangga ke seratus. Jadi jangan khawatir, jika di tengah perbaikan diri itu, kita akan mendapati diri ini berada dalam kepayahan dan keletihan yang TERAMAT SANGAT. Tapi ingatlah cita-cita untuk berdiri di atas anak tangga yang ke seribu, niscaya segala letih akan hilang dan berganti dengan senyum menyegarkan dibarengi tatapan penuh semangat. Itulah konsekuensi sebuah perubahan untuk perbaikan diri.

Dan jangan takut pula, suatu kepastian… jika kita akan dihujat, dicemooh, dan diintimidasi oleh banyak manusia. Anggap saja semua itu adalah bumbu perubahan yang menjadikan perubahan itu semakin berarti untuk diri kita. Anggap saja, mereka…orang-orang itu hanyalah orang yang sedang numpang lewat dalam hidup kita. Toh, kalau kita tidak mempedulikannya, mereka pun tidak akan pernah mampu mengubah warna diri kita. So… don’t worry… be happy aja lagi!!! Katakanlah kepada diri kita masing-masing… SUBHANALLAH…

Sudah biasa, mereka tidak akan pernah ridho dengan perubahan untuk cita-cita besar dalam diri kita. Hal yang menghambat dan menyakitkan tersebut jangan pernah diambil pusing. Sebenarnya, apa sih yang kita cari di dunia ini? Ridho ALLAH atau ridho makhluk? Kalau makhluk tidak ridho dengan apa yang kita lakukan sedangkan itu adalah sesuatu yang ALLAH Cintai dan (insyaALLAH) ALLAH ridho terhadapnya, kenapa kita harus sedih, pusing dengan ucapan-ucapan buruk manusia? Toh, mereka tidak punya kekuasaan sedikit pun atas diri kita. Lagi-lagi, dibikin enjoy aja!!!

Nah… dapat kita simpulkan segala CITA-CITA besar akan membawa konsekuensi yang pula. Tinggal, siapkah kita menghadapi semua itu? Jika tidak, tetaplah menjadi diri kerdil yang tidak berani berubah dan MEMPERBAIKI DIRI. Sekali lagi, kembali kepada diri kita masing-masing… MAU dan MAMPU-kah kita, itu adalah sebuah PILIHAN yang ditawarkan.
Ayo SEMANGAT…!!!