jump to navigation

Kontras 18/04/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: ,
add a comment

Mencoba lagi variasi dengan ikan salmon, sekarang akhirnya bisa masak dengan bumbu kecap yang sangat kental. Tapi penampilannya gak menarik, huhu T_T
Meski demikian, alhamdulillah rasanya tetap enak di lidah, dipadu dengan sayur tahu toge yang bening (akhirnya dapet juga toge di Jepang).

Salmon kecap (kanan) + Sayur tahu toge

Salmon kecap (kanan) + Sayur tahu toge

Selamat makan, jangan lupa berdoa. Setiap suap makanan yang masuk ke perut kita harus menjadikan kita selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan ALLAH, juga mengingatkan akan kondisi saudara-saudara kita yang kekurangan dan belum beruntung meski hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Perfeksionis, benarkah menyebalkan? :D 12/04/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman, Psikologi.
Tags:
add a comment

Perfeksionisme adalah sebuah sifat yang menginginkan segala sesuatu nyaris sempurna dan merancang tidak ada kekurangan sedikitpun dari hasil pekerjaannya. Orang dengan sifat seperti ini di sisi lain dari sifatnya yang tidak mudah puas juga ‘kadang’ tersiksa. Nampak terlalu ribet dalam mengerjakan sesuatu demi hasil yang diharapkan (pendapat orang lain ketika mengamati). Meskipun hasilnya optimal namun ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan.

Sebagai contoh dalam hal bekerja, seorang perfeksionis tidak akan puas dengan hasil pekerjaan yang menurutnya ‘tidak sempurna’ (padahal di dunia ini mana ada yang sempurna?). Cukup menyiksa memang, karena ia akan mengulang beberapa hal demi mendapatkan hasil yang sesuai harapannya. Nah, bagi yang tingkat perfeksionisnya tinggi (hampir ga ketulungan) akan lebih repot lagi. Misalnya membuat gambar atau desain, bisa-bisa tempat sampah akan dipenuhi dengan kertas berisi pekerjaan yang nyaris jadi namun ‘menurutnya’ tidak terlalu bagus akhirnya pun klik delete dan buang coretannya di tempat sampah. Padahal kalau kata orang lain, sudah lumayan bagus (tetap saja tidak dihiraukan olehnya).

Menjadi perfeksionis memang banyak konsekuensinya. Orang perfeksionis cenderung rentan terhadap stres karena mengusahakan dan mengharapkan segala sesuatu tanpa kekurangan. Wah, kalau toh ada kekurangan haruslah seminimal mungkin. Ada banyak aturan yang diberlakukan untuk dirinya sendiri. Jadi terkadang bisa kelelahan sendiri. Selain itu, ia memiliki pikiran atau ide-ide kreatif sendiri dan mengharapkan orang lain bisa mengikuti alur pikirannya, padahal tidak semua orang bisa bekerja ‘ala dia’. Nampak egoiskah? (Curhatan pribadi!!! Sepertinya saya juga punya sindrom perfeksionis :D)

Selain negatifnya, ada sisi positif dari perfeksionis.

Serahkanlah pekerjaan kepada mereka, niscaya Anda puas dengan hasilnya.

Hehehe… Memang demikian yang terjadi, orang perfeksionis akan melakukan segala hal sebaik mungkin. Tentu juga sangat disiplin terutama mengusahakan disiplin untuk dirinya sendiri. Ada rasa ketidaknyamanan ketika melakukan sesuatu ‘biasa-biasa saja’ padahal menurutnya bisa ia lakukan lebih baik. Dengan demikian, hasil yang ia dapat pun akan lebih optimal. Hmm, nampaknya orang-orang seperti ini kurang menikmati proses yah? karena terlalu dipusingkan dengan hasil yang terbaik :p

Ada slogan yang menarik dari seorang perfeksionis,

Jika tidak melakukan yang terbaik, lebih baik tidak sama sekali.

Dalam hal ini, termasuk lebih baik ketika merencanakan dan melakukan sebaik-baiknya, daripada bekerja ala kadarnya.

Nampak capek yah bila kita melihat mereka di sekitar kita. Padahal tidak selamanya begitu, ada beberapa tipe perfeksionis yang ‘menikmati’ keribetannya kok ;)
Nah, bagaimanakan dengan Anda ketika menghadapi seorang perfeksionis? Benarkah menyebalkan? :D

Rumahku, surgaku 31/03/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: , ,
4 comments

Rumahku, surgaku…

Itulah bunyi sebuah pepatah yang kerap kita dengar untuk mendeskripsikan sebuah rumah idaman. Akhir-akhir ini barulah saya menyadari bahwa pepatah itu memang benar adanya. Padahal, biasanya saya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti pepatah itu. Setelah dirasakan dan direnungi, ternyata memang benar…

No Place Like Home

Di manapun kita berada, rasanya tetap nyaman di rumah sendiri (bagaimanapun keadaannya). Bagi yang masih jadi anak, tempat ternyaman adalah rumah orangtua. Bagi yang sudah menikah, tempat terindah adalah rumah suami. Bagi yang nge kos??? jawab sendiri ya ;)

Jika kita pernah ‘uji coba’ tinggal di rumah orang lain untuk beberapa waktu yang lama, coba kita rasakan, kemudian bandingkan dengan perasaan saat kita berada di kamar sendiri. Saat tinggal di rumah orang lain, dipungkiri ataupun tidak -semewah apapun rumah itu- secara psikis tetaplah tidak senyaman rumah sendiri. Perasaan sungkan, kikuk, canggung, dan sebagainya mungkin kerap datang di hati kita, namun kebanyakan orang tak mempedulikannya. Jika kita mau merasakan, mungkin saat-saat itulah baru kita rasakan bagaimana nyamannya kamar di rumah kita :)

Berkumpul dengan keluarga, bercanda, ribut bersama, dan kehebohan lainnya di rumah kerap kali menjadi sebuah kenikmatan yang sering kita lupakan. Ketika saat-saat itu tak terulang lagi, barulah kita mengerti ‘betapa berharganya’ sebuah istana keluarga. Ada banyak warna-warni di istana kita.

Kembali di tengah keluarga, berdiam diri di kamar untuk mencari inspirasi dan berkarya, berkumpul, bercanda rame-rame adalah saat-saat indah dalam hidup.

Jadi, jangan pernah lupakan keindahan istana kita :)

Belajar konsentrasi 27/03/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: ,
2 comments

Beberapa hari ini saya tinggal bersama keluarga sepupu saya. Hal yang cukup menarik adalah putri cantik mereka yang bernama Rafa. Usianya baru 3 tahun 3 bulan, namun Rafa sudah mampu melakukan aktifitas anak-anak yang berusia di atasnya. Meskipun kedua orangtuanya bekerja, namun Rafa memilih belajar di rumah bersama “Yang Ndang” (maksudnya eyang Endang, adik dari neneknya). Rafa merupakan anak yang mudah akrab dengan siapapun. Ketika saya datang, dari dalam kamarnya ia berteriak

siapa itu, Yang Ndang?

Lalu dijawab:

Ini ada tante loh…

(hehe, ternyata saya sudah menjadi tante-tante :D). Hanya beberapa menit saja, Rafa mulai akrab dengan tantenya (hore!!!).

Rafa mulai mengajak saya untuk bercerita

Tante, Rapa mau dong diceritain tante

Waduh saya bingung, cerita apaan ya? Tiba-tiba ia mengambil 2 buah buku cerita, lantas ia pun berkata

Tante, Rapa bacain dunk

(Weleh-weleh… selamat deh dari kebingungan :D). Setelah dua buku cerita tersebut saya lahap (maksudnya, saya bacakan untuk Rafa), ia gantian menceritakan kembali kedua isi cerita tersebut kepada saya (whew! hapal amat ni anak). Hmm… anak sekarang, sangat berbeda dengan anak-anak angkatan saya :p (22 tahun yang lalu euy!).

Selanjutnya Rafa mengajak saya untuk berhitung dan latihan membaca (lagi-lagi saya terheran-heran). Anak seusia dia, setahu saya belum mampu untuk mengoperasikan bilangan. Ternyata dugaan saya salah! Rafa telah mampu berhitung dengan penjumlahan sambil diselingi dengan menyebutkan angka-angka tersebut dalam bahasa Inggris. Masih banyak hal lain yang membuat saya terheran-heran dengan perkembangan Rafa (mewakili anak masa kini). Dalam hati saya bergumam, wah… berarti teori-teori perkembangan di jaman saya kuliah dulu udah jadul beneran nih (maksudnya, teori yang saya pelajari berlakunya untuk anak jaman dulu, buat anak jaman sekarang mah udah gak sesuai lagi tuh). Meski begitu, ada beberapa teori yang masih sesuai kok :)

Demikian halnya dengan anak berusia tiga tahun, ia mulai belajar memegang pensil dan menggunakannya (belajar mewarnai buku gambar), belajar duduk dan makan di meja (latihan untuk tenang beraktivitas di meja), bermain puzzle. Tetapi mengajak anak untuk beraktivitas dengan meja dan kursi bukanlah hal yang mudah. Orangtua atau pengasuh harus mulai membiasakannya sejak dini. Selain itu, anak belum mampu duduk dan berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Perhatiannya juga mudah beralih pada hal lain yang lebih menarik (5-10 menit merupakan waktu paling banyak untuk tetap tenang dengan satu aktivitas).

Begitupun halnya dengan Rafa, sering banget ia mengatakan,

Yuk tante, maen itu aja yuk

padahal baru beberapa menit menyebar satu mainan, ia hendak menyebar mainan yang lain (kalau begini mah kasian yang beresin atuh… :D). Selain itu, untuk urusan makan ia pun kembali berulah. Dalam satu sesi makan, baginya tidak cukup disuapin oleh satu orang. Tiga bahkan empat orang harus ikut andil dalam menyuapinya. Whew! (Kalau di rumah cuma ada ibu doank, trus gimana dunk?).

Rapa mau makan sama Yang Ndang, dah ah.. maunya sekarang sama Tante. Sekarang sama Mbak Vina. Ayah… ayah, sini donk, mau makan sama Ayah.

Weleh-weleh… kapan beresnya kalo gitu?.

Jadi, bagi orangtua yang memiliki anak seusia Rafa (3 tahunan), orangtua harus mulai mempersiapakan anak untuk belajar berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama. Konsentrasi ini akan menjadi hal yang sangat penting bagi anak ketika anak mulai memasuki usia sekolah.

Masak enak dan masak keasinan 12/03/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: , , ,
3 comments
salmonexpress

Masakan cepat saji :D

Di tengah sepinya malam ini, saya merasa senang sekali karena beberapa hari lalu bisa masak sesuatu yang beda. Meskipun sederhana, tapi alhamdulillah rasanya enak. Proses memasaknya pun sangat cepat, kurang dari 10 menit, cocok sekali kalo lagi diburu waktu :D (padahal masaknya malem-malem sih ga diburu waktu banget)…

Enjoy:
The Recipe

Di sisi lain, hari ini saya masak sayur rasanya asin luar biasa. Seingat saya sih naburin garam gak terlalu banyak, tapi ini benar-benar asin.
Kata orang jaman dulu, kalo kita masak keasinan itu ada pertanda.
Pertanda apa ya?

Menuju Bilangan ke-22 14/02/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: ,
add a comment

Alunan murrotal QS. Luqman terasa sangat menghujam dalam hati. Saya pun tiba-tiba teringat akan umur saat ini. Ya, tahun ini jatah umur saya telah berkurang menuju bilangan 22. Belum genap memang, namun jika diberi kesempatan, insyaALLAH angka tersebut akan menjadi milik saya di tahun ini. Ingin berkata, bercerita, bahkan berteriak (*hiperbolis? tapi benar kok begini keadaannya) untuk mengungkapkan semuanya. Namun tak satu kata pun terucap dan akhirnya tertoreh pada kompie ini. Alhamdulillah :)

Ya ALLAH, segala puji bagi-Mu
Engkau berikan segenap rahmat juga kesempatan kepada hamba-Mu ini
Namun kerap kali kesempatan itu berlalu begitu saja

Ya ALLAH, ampunilah aku
Aku lemah…
Engkau kuatkan aku
Engkau lapangkan hidupku
Engkau mudahkan segala urusanku
pintaku, jadikan sisa umur ini untuk mempersembahkan yang terbaik bagi-Mu

Ya ALLAH, hanya dengan mengingat-Mu qolbu ini menjadi tenang.

Bilangan 22, cukup banyak dan selanjutnya umur akan semakin berkurang jatahnya. Lantas… rasanya terlalu banyak waktu yang berlalu tanpa makna dan terlalu banyak kesia-siaan dalam hidup. Astaghfirullah… ampuni hamba-Mu ini ya Allah.

Di sisa umur ini, saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang sangat berarti dalam hidup saya (keluarga, sahabat, dan ******). Kepada semua yang saya cintai, semoga pesan ini tersampaikan. Saya berharap dapat membenahi semuanya (membenahi segala hal yang dapat dibenahi -tak terkecuali-). :)

Benarkah cinta dan pernikahan tidak seiring dengan karir? 13/02/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: ,
4 comments

Beberapa hari yang lalu saya mendengarkan ungkapan hati seorang teman yang ia pendam selama ini,

Aku simpulkan kalau cinta itu ga akan pernah seiring dengan karir

itulah pernyataan akhir setelah ia menceritakan perasaannya. Ada juga ungkapan beberapa teman lain yang sependapat dengan pernyataan di atas.

Kembali mengingat kisah awal hingga muncul asumsi di atas, begini ceritanya. Berawal dari kisah seseorang (sebut saja X) yang berencana akan menikah muda dan meninggalkan bangku magister yang akan menjadi awalan karirnya kelak. Sangat dini memang, namun hal itulah menjadi pilihan hidupnya. Teman saya tadi mengatakan kepada X kurang lebihnya seperti ini

Maaf banget ya X, aku pengen banget bilang ke kamu dari dulu. Aku tuh sebel banget sekaligus kasian ama kamu. Menurut aku, kamu tuh punya potensi besar. Kamu bisa melakukan banyak hal lebih dari yang kamu lakukan selama ini, sekedar jadi pengangguran meski hanya sementara (*dan seterusnya yang tidak saya tuliskan di sini)… Aku simpulkan kalau cinta itu ga akan pernah seiring dengan karir.

Teman lain juga mengatakan hal yang intinya tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas.

… Kamu tuh berprestasi, kamu punya banyak hal yang bisa jadi modal buat karirmu. Bukannya kamu pengen banget sukses? Kamu bisa sekolah, bisa kerja, bisa mandiri, ga cuma kayak sekarang. Sayang banget X, kamu ninggalin sesuatu yang bakal jadi awalan puncak karirmu ntar. Sebenernya bisa nggak sih kamu mikir yang lebih realistis, lebih dari yang kamu pikirin saat ini? Coba deh kamu pikirin orang lain yang sayang sama kamu, kamu pernah tanya ke mereka apa mereka kecewa atau ga dengan keputusan konyolmu ini? Kamu ngerti ga sih?

(*wow! pertanyaan yang menohok dan memojokkan) … dan seterusnya. Ada juga pernyataan yang lebih halus dari hal di atas

Aduh, sayang banget X, dulu mama aku juga kayak kamu. Akhirnya si mama ga jadi lanjut sekolah ke Australia gara-gara udah dikirimi tiket sama si papa buat nyusul papa ke Inggris.

Hmm, cukup menarik untuk dikaji lebih mendalam (heuheu…). Menurut saya, beberapa teman yang memiliki pendapat di atas, tidak lepas dari latar belakang masing-masing. Bagi mereka yang tumbuh, dibesarkan, dan mendapat pendidikan di PTN bonafit yang terbiasa dengan pendidikan tinggi bahkan sangat tinggi, dapat dipastikan akan memberi respon yang tidak jauh berbeda antara satu sama lain. Demikian halnya dengan teman-teman saya tadi, kebetulan mereka adalah para mahasiswa yang berasal dari PTN-PTN tersohor di negeri ini.

Bagi sebagian orang, mungkin pendapat tersebut -mutlak- benar, namun bagi sebagian yang lain, tidaklah demikian. Antara meng iya kan dan menolak pendapat tersebut, saya memilih untuk berada pada pendapat tengah yaitu tidak sepenuhnya menerima dan tidak pula menolaknya. Saya berpikir bahwa dua pendapat mutlak tersebut belum saya buktikan kebenarannya, jadi masih menjadi sebuah hipotesis di benak saya,

Benarkah cinta dan pernikahan tidak seiring dengan karir?

Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang bersedia berbagi pendapatnya kepada saya. Pendapat yang cukup kritis dan perlu ditindaklanjuti (*maksudnya? :D )

Alkohol 43 persen 18/01/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: , ,
add a comment

Jumat lalu, di lab saya ada cooking party dengan juru masak saya sendiri untuk masakan Indonesia (tumis-tumisan/pura-pura tumis, haha), lalu teman asal Bangladesh yang menghadirkan roti chapati beserta kari Bangladesh, dan tutor saya yg terhormat dengan mie Jepang-nya. Acara itu digelar dari pukul 18 s.d. 21 dan diisi dengan obrolan santai mulai dari soal riset hingga urusan pribadi.

Buat orang Jepang, acara makan-makan dan ngobrol begini tidaklah lengkap tanpa kehadiran minuman beralkohol. Untunglah profesor dan teman-teman memaklumi orang-orang muslim yang tidak minum alkohol. Mereka juga sebenarnya menyadari kalau minuman beralkohol itu berbahaya buat kesehatan. Profesor saya dulu pernah bilang begini, kira-kira diterjemahkan jadi:

Alkohol itu kalau banyak diminum tentu saja berbahaya buat kesehatan, tapi kalau sedikit saja ya gak masalah dong…

Setelah selesai acara makan-makan itu dan profesor sudah pulang, saya kembali ke ruangan saya dan agak terkejut melihat kelakuan teman-teman di ruangan, terutama tutor dan senior yang lain. Salah seorang di antara mereka bilang begini sambil mempersiapkan meja dan kursi di tengah ruangan:

Profesor sudah pulang, ayo ikut minum-minum!!!

MasyaALLAH, tahan amat nih anak muda minum alkohol. Saya melongok ke arah meja saya, ternyata ada sisa minuman segar, saya becandain deh,

Ok, boleh, saya ikutan, tapi ga pake alkohol ya, saya pake jus wortel aja…

Mereka tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan saya ikut bergabung. Hmm, saya pikir ini kesempatan bagus buat mengamati kelakuan orang Jepang yang lagi mabuk kemudian buat bertanya macam-macam. Mungkin saja saya bisa menyelipkan pesan-pesan moral supaya mereka bisa mengurangi minum-minum atau bahkan tidak minum alkohol lagi.

Tapi saya betul-betul kaget begitu mereka menunjukkan botol minuman keras yang mereka bawa:

Lihat ini, alkohol 43 persen…

Hoeks… pengen muntah, gak jadi deh saya mau “berceramah”, karena alkoholnya kelas berat… Saya dah gak enak hati sendiri bergabung dengan mereka meski cuma numpang ngobrol… Akhirnya obrolan pun ngaler ngidul ke mana-mana.

Saya merenung, betapa dangkalnya pemikiran hidup mereka, setiap hari kerja, malam minum alkohol, besok kerja lagi, terus menerus, hingga akhirnya ajal menjemput. Amal apa yang sudah disiapkan?
Ah, sudahlah, lebih baik berkaca saja pada diri saya sendiri, terus perbaiki diri, siapkan yang terbaik ketika kelak berjumpa dengan-Nya…

Hujan Deras 01/01/2009

Posted by Yasrid in Pengalaman.
Tags: , ,
5 comments

Hari ini dingin sekali, rupanya hujan deras. Bukan sekedar hujan biasa, melainkan hujan salju.
Saya coba tengok ke luar jendela kamar…

Pemandangan hutan depan jendela kamar

Pemandangan hutan depan jendela kamar

Brrr… Bulir-bulir salju nyaris menerjang seisi kamar ketika jendela itu saya buka dan ambil foto ke arah hutan di depan kamar saya. Untungnya desain bangunan asrama ini cukup bagus sehingga salju tidak bisa masuk seenaknya meskipun angin mengarah ke dalam kamar. Dan setelah sekian lama, saya coba melongok ke bawah. Oh, garasi sepeda sudah tertimbun salju…

Garasi penuh salju

Garasi penuh salju

Sejenak saya berpikir, salju begini bikin susah kerja, pengennya males-malesan. Heran juga, kenapa orang Jepang bisa tetep maju walaupun punya musim salju yang cukup lama (sebetulnya sayahnya aja sih yang bedegong pemalesan).
Anggap saja di kota Sendai ini musim saljunya 4 bulan, berarti orang-orang di sini cuma punya 8 bulan yang nyaman untuk bekerja dalam setahun. Sedangkan di Indonesia, kita punya 12 bulan yang sangat nyaman (kalau lagi gak kena “adzab” – bencana), tapi selalu saja kita ketinggalan…