Mendidik anak 15/04/2009
Posted by Yasrid in Psikologi.Tags: anak, mendidik, pola asuh
add a comment
Mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Sulit-sulit gampang, banyak sulitnya daripada gampangnya.
Begitulah kira-kira kata orangtua yang sudah berpengalaman mendidik beberapa anaknya.
Ungkapan tersebut memang benar. Anak terlahir dengan dibekali karakter dan sifat masing-masing yang tentunya tidak akan sama antara anak yang satu dengan yang lainnya. Sifat bawaan tersebut akan berkembang dengan dipengaruhi oleh lingkungannya. Pola didik inilah merupakan faktor eksternal yang turut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
Ada berbagai macam cara mendidik anak. Kita biasa menyebutnya dengan pola asuh. Beberapa ahli menggolongkan pola asuh dalam beberapa istilah. Kategorisasi pola asuh yang paling populer antara lain pola asuh permisif, otoriter, dan otoritatif. Masing-masing cara mendidik di atas memiliki konsekuensi tersendiri.
Anak yang dididik secara permisif ‘apa saja boleh’ akan tumbuh menjadi anak pemberani, keras kepala, dan kurang menghargai orang lain. Baginya, apapun yang ia lakukan adalah benar. Beberapa orangtua masa kini memilih pola asuh yang ‘nyaris’ permisif. Memang sangat tipis beda antara permisif dengan mengasuh ‘tanpa memarahi’. Satu sisi, anak berani mencoba hal-hal baru, namun di sisi lain anak akan tumbuh dengan mengembangkan sifat egoisnya. Anak seperti ini sejak kecil selalu dituruti oleh orangtuanya, sehingga ia tidak peduli dengan kepentinngan orang lain. Saya pernah mengamati anak yang diasuh dengan cara seperti ini, pada usia kanak-kanaknya ia telah menampakkan ‘bakat-bakat’ keras kepala dan egoisnya. Ketika ia meminta sesuatu yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri, ia menyuruh orang lain. Jika tidak ditturuti maka akan marah dan berteriak. Akhirnya orangtuanya pun menuruti semua kemauannya. Di sisi lain, ia berani mencoba hal-hal baru dan nampak pandai jika dilihat dari kemampuannya.
Anak yang dididik dengan otoriter, maka cenderung tidak berani mencoba hal-hal baru dan terlihat ‘penurut’ di depan orangtuanya. Kebiasaan mendapat dikte orangtua akan menyulitkan anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Pola otoritatif nampaknya cukup baik diterapkan, dimana ada komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Anak diajarkan bertanggung jawab, mendapat pujian dan hukuman sesuai dengan perbuatannya. Biasanya, pola otoriter kerap diterapkan oleh para orangtua jaman dulu. Pola ini sangat konvensional, dimana orangtua memegang kendali sepenuhnya. Sedangkan pada masa sekarang, tidak sedikit orangtua yang memakai pola permisif (tanpa hukuman) dalam mendidik anak-anaknya, dimana anak dibebaskan melakukan semua yang ia inginkan tanpa batasan. Sedangkan pola otoritatif nampaknya dapat dicoba dengan menyesuaikan kepribadian anak masing-masing.
Pada dasarnya, setiap cara didik akan menimbulkan efek yang berbeda-beda. Orang tua perlu memahami dan menyesuaikan pola asuh yang paling tepat untuk anak-anaknya. Alangkah baiknya jika kita sebagai orangtua bisa benar-benar memahami anak-anak kita. Hal ini akan sangat membantu kita dalam mendidik mereka. Ketika salah dalam mendidik, maka akan berakibat fatal bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah memilih pola didik yang tepat bagi anak Anda? :)
Perfeksionis, benarkah menyebalkan? :D 12/04/2009
Posted by Yasrid in Pengalaman, Psikologi.Tags: kepribadian
add a comment
Perfeksionisme adalah sebuah sifat yang menginginkan segala sesuatu nyaris sempurna dan merancang tidak ada kekurangan sedikitpun dari hasil pekerjaannya. Orang dengan sifat seperti ini di sisi lain dari sifatnya yang tidak mudah puas juga ‘kadang’ tersiksa. Nampak terlalu ribet dalam mengerjakan sesuatu demi hasil yang diharapkan (pendapat orang lain ketika mengamati). Meskipun hasilnya optimal namun ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan.
Sebagai contoh dalam hal bekerja, seorang perfeksionis tidak akan puas dengan hasil pekerjaan yang menurutnya ‘tidak sempurna’ (padahal di dunia ini mana ada yang sempurna?). Cukup menyiksa memang, karena ia akan mengulang beberapa hal demi mendapatkan hasil yang sesuai harapannya. Nah, bagi yang tingkat perfeksionisnya tinggi (hampir ga ketulungan) akan lebih repot lagi. Misalnya membuat gambar atau desain, bisa-bisa tempat sampah akan dipenuhi dengan kertas berisi pekerjaan yang nyaris jadi namun ‘menurutnya’ tidak terlalu bagus akhirnya pun klik delete dan buang coretannya di tempat sampah. Padahal kalau kata orang lain, sudah lumayan bagus (tetap saja tidak dihiraukan olehnya).
Menjadi perfeksionis memang banyak konsekuensinya. Orang perfeksionis cenderung rentan terhadap stres karena mengusahakan dan mengharapkan segala sesuatu tanpa kekurangan. Wah, kalau toh ada kekurangan haruslah seminimal mungkin. Ada banyak aturan yang diberlakukan untuk dirinya sendiri. Jadi terkadang bisa kelelahan sendiri. Selain itu, ia memiliki pikiran atau ide-ide kreatif sendiri dan mengharapkan orang lain bisa mengikuti alur pikirannya, padahal tidak semua orang bisa bekerja ‘ala dia’. Nampak egoiskah? (Curhatan pribadi!!! Sepertinya saya juga punya sindrom perfeksionis :D)
Selain negatifnya, ada sisi positif dari perfeksionis.
Serahkanlah pekerjaan kepada mereka, niscaya Anda puas dengan hasilnya.
Hehehe… Memang demikian yang terjadi, orang perfeksionis akan melakukan segala hal sebaik mungkin. Tentu juga sangat disiplin terutama mengusahakan disiplin untuk dirinya sendiri. Ada rasa ketidaknyamanan ketika melakukan sesuatu ‘biasa-biasa saja’ padahal menurutnya bisa ia lakukan lebih baik. Dengan demikian, hasil yang ia dapat pun akan lebih optimal. Hmm, nampaknya orang-orang seperti ini kurang menikmati proses yah? karena terlalu dipusingkan dengan hasil yang terbaik :p
Ada slogan yang menarik dari seorang perfeksionis,
Jika tidak melakukan yang terbaik, lebih baik tidak sama sekali.
Dalam hal ini, termasuk lebih baik ketika merencanakan dan melakukan sebaik-baiknya, daripada bekerja ala kadarnya.
Nampak capek yah bila kita melihat mereka di sekitar kita. Padahal tidak selamanya begitu, ada beberapa tipe perfeksionis yang ‘menikmati’ keribetannya kok ;)
Nah, bagaimanakan dengan Anda ketika menghadapi seorang perfeksionis? Benarkah menyebalkan? :D
Sindrom anak sulung 01/04/2009
Posted by Yasrid in Psikologi.Tags: anak, kepribadian, sulung
7 comments
Sempat bingung juga mencari judul yang tepat untuk tulisan ini. Nampak aneh dengan penggunaan kata ’sindrom’, mungkin lebih tepatnya (yang saya maksudkan di sini) adalah kecenderungan kepribadian anak sulung :)
Saya sempat berinteraksi cukup lama dengan anak-anak yang menjadi anak sulung. Ada beberapa hal menarik dari pengalaman tersebut dan saya akan membaginya pada tulisan ini.
Setelah cukup lama melakukan pengamatan, ternyata ada corak khas dari anak-anak sulung. Secara psikologis, memang urutan kelahiran cukup mempengaruhi kepribadian anak. Secara garis besarnya adalah sebagai berikut.
Pertama, anak sulung cenderung ambisius dan bertanggung jawab. Anak yang dilahirkan sebagai anak sulung cenderung mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya, apalagi bila jarak kelahiran dengan adiknya relatif cukup lama (lebih dari 2 tahunan). Anak sulung mendapatkan prioritas lebih dalam banyak hal, karena hal inilah ia akan cenderung lebih ambisius untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain itu, ia juga cenderung bertanggung jawab untuk menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan kepadanya namun di sisi lain ia sangat keras kepala. Anak sulung terbiasa dijadikan patokan standar ‘model’ yang penting bagi adik-adiknya, hal inilah yang mendorong mereka untuk selalu berprestasi (*nampak sangat ambisius).
Kedua, cenderung bersikap ‘boss’ banyak mengatur. Pola perilaku seperti ini merupakan hasil pembelajaran sejak mereka kecil. Anak sulung diharuskan mampu menjadi teladan bagi adiknya, sehingga kerap banyak mengatur orang lain (namun kadang dirinya susah diatur :D).
Ketiga, cenderung pekerja keras dan tidak mudah putus asa. Pembiasaan untuk menjadi model yang baik sejak kecil dapat membentuk kepribadian anak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak mudah putus asa untuk meraih mimpinya.
Keempat, cenderung kritis dan analitis. Banyak penelitian yang megungkapkan bahwa skor kecerdasan anak sulung cenderung lebih tinggi daripada saudara-saudaranya (*bagaimana dengan Anda?).
Kelima, cenderung mampu berpikir dewasa. Menjadi yang pertama diharapkan mampu memberi yang lebih baik akan menjadikan anak sulung lebih mampu untuk bersikap dan berpikir dewasa dalam menyelesaikan masalah. Jadi biasanya nyaman untuk dijadikan sebagai tempat curhat :).
Berdasarkan hasil pengamatan saya, hal menonjol yang paling nampak dari anak-anak sulung adalah cerdas, sangat keras kepala, disiplin, serius, ambisius, terlalu pilih-pilih, bertanggung jawab, tidak mudah putus asa, dewasa, suka memerintah, dan susah diatur.
Bagi yang merasa anak sulung, benarkah hal di atas ada dalam diri Anda?
Blog ini merupakan kolaborasi tulisan dua orang dengan latar belakang pendidikan berbeda tapi memiliki cara pandang yang sama tentang hidup :)
Jika tertulis kata "saya" dalam setiap tulisan, silakan tebak sendiri siapa yang menulis.
